Pemanfaatan Medan Magnet Pada Migrasi Hewan

Pemanfaatan medan magnet pada migrasi hewan sangat penting karena menentukan arah migrasi, berburu, dan menentukan arah pulang. Hal ini terjadi karena pada tubuh hewan terdapat magnet sehingga dapat mendeteksi medan magnet yang disebut biomagnetik

Pada hewan terdapat sebagian sel yang bersifat magnetis dan merespon terhadap medan magnet bumi. Tak heran hewan, contohnya burung bisa menemukan jalan pulang mereka kembali, melalui sebaran medan magnet di bumi.

Medan magnet adalah bagian bumi yang masih dipengaruhi oleh gaya tarik bumi (gravitasi). Pergerakannya dari kutub utara magnet, dan berputar kembali ke kutub selatan.


Seperti hal nya manusia, medan magnet dimanfaatkan melalui penggunaan kompas untuk menentukan arah Utara, sehingga bisa menentukan jalur perjalanan, begitupun hewan. Berikut contoh pemanfaatan medan magnet pada migrasi hewan.

1. Migrasi Burung


Pernahkah kamu mendengar cerita masyarkat jaman dulu yang menggunakan burung merpati untuk mengirimkan pos?

Tahukah kamu? Burung merpati tersebut selalu bisa menyampaikan pesan tersebut ke tujuan, meskipun terdapat banyak rintangan seperti hujan, angin, dan rintangan lainnya.

Hal ini terjadi karena sel magnetis pada burung merpati tersebut merekam arus medan magnet bumi untuk menciptakan peta atau navigasi, sehingga dapat menemukan arah perjalannya dengan benar.

Pada penelitian Cowel tahun 1974, burung merpati pos dipasangkan magnet pada kepalanya untuk perjalanan pengiriman surat. Beberapa saat kemudian, merpati tersebut kehilangan arah dan tidak mengetahui jalan pulang.

Hal tersebut terjadi karena medan magnet disektirnya teganggu dengan magnet tersebut, sehingga sel magnetis pada burung merpati kesulitan mengikuti arah yang benar dan biasa dilewatinya.

Selain burung merpati, beberapa burung lain seperti Layang-layang dan Elang melakukan migrasi pada musim tertentu menggunakan perubahan medan magnet bumi yang sedang terjadi.

2. Migrasi Penyu


Tahukah kamu? Penyu dan kura-kura selalu kembali ke daerah kelahirannya menetas meskipun sudah bertahun-tahun berkelana ke berbagai samudra yang jaraknya ribuan kilometer.

Pada fase hidupnya, penyu akan kembali ke pantai tempatnya menetas untuk bertelur kembali. Hal tesebut terjadi karena penyu merasakan kesamaan medan magnet saat lahir.

Maka tak heran suka ada daerah pantai yang dinamakan "pantai penetasan penyu" karena daerah tersebut memiliki kesamaan medan magnet saat menetas.

Selanjutnya timbul pertanyaan, Apakah penyu selalu kembali tepat ke tempat penetasannya?

Saat ini tidak bisa dinyatakan 100% karena banyaknya bangunan yang didirikan manusia yang merubah pola medan magnet disekitar. Meskipun demikian penyu akan kembali ke daerah yang memiliki kemiripan karakteristik medan magnetnya saat menetas.

Ingat dengan penelitian pemasangan magnet pada burung Merpati yang menyebabkan burung kehilangan arah nya? Begitupun dengan penyu, akibat terjadinya perubahan medan magnet penyu pun bisa mengalami kesulitan, namun tetap bisa menemukan daerah yang karakteristik medan magnetnya mirip atau mendekati.

3. Ikan Salmon


Hayo, siapa yang belum tahu ikan Salmon? Ikan yang kaya akan vitamin OMEGA-3 yang sangat bagus untuk perkembangan otak anak. Selain itu, ikan ini menjadi salah satu primadona makanan kuliner laut loh....

Ikan salmon ini mempunyai siklus hidup yang unik, yaitu pada fase juvenil atau fase umur muda hidup di air tawar, setelah dewasa baru berenang bebas di lautan secara kelompok.

Saat memasuki masa kawin, kelompok ikan Salmon akan kembali ke perairan tempat mereka menetas yang selalu berada di perairan tawar yang biasanya ada di dataran yang lebih tinggi dari lautan.

Maka tak heran, disaat ikan lain mencari perairan yang landai, saat musim kawin ikan salmon melawan arus ke dataran yang lebih tinggi secara berkelompok.

Meskipun sudah dewasa dan sudah berenang ke berbagai samudra, ikan Salmon dapat mengingat arah pulang tempat menetaskan telurnya. Hal ini karena adanya karakteristik medan magnet yang dikenali ikan Salmon sebagai petunjuk jalan pulangnya.

Sama seperti penyu, ikan salmon enggunakan sel magnetisnya untuk menemukan perairan tempat menetaskan telurnya. Maka tak heran pada perairan tertentu setiap tahunnya selalu ada salmon yang berkumpul.

Salah satu perairan tempat memijahnya ikan salmon ada di Sungai Fraser, negara Canada.

4. Migrasi Paus


Sebelum kita bahas tentang migrasi paus. Menurut kamu paus itu ikan bukan? Ya, benar paus bukanlah ikan melainkan hewan mamalia laut yang paling besar. Jika masih menjawab ikan, sepertinya masih perlu belajar klasifikasi ikan nih, hehe....

Pada fase hidupnya paus melakukan migrasi untuk mencari makan. Pada musim panas Paus bermigrasi ke Samudera Antartika, sedangkan pada musim dingin migrasi ke khatulistiwa untuk mencari plankton dan ikan kecil di Samudera Atlantik yang hangat.

Tahukah kamu? Paus selalu ingat lokasi jalur migrasi mereka antar samudra loh, hal ini karena paus menggunakan medan magnet sebagai petunjuk jalannya.

Berbeda dari hewan lainnya yang melakukan migrasi, selain menggunakan medan magnet, paus juga menggunakan cahaya matahari dan gelombang suara, sehingga tingkat mereka tersesat di jalan cukup rendah.

Namun, akan berbeda jika ada perahu manusia yang menggunakan Sonar, magnet, dan perangkan yang menggunakan gelombang suara dapat mengganggu navigasi paus, sehingga ada kasus paus yang terdampar di pantai.

5. Migrasi Lobster Duri


Lobster duri atau yang suka disebut juga udang karang dengan nama ilmiah Palinuridae memiliki kebiasaan migrasi dari lepas pantai Florida menuju lautan lepas yang lebih hangat dan tenang di setiap akhir musim gugur.

Berdasarkan penelitian Kenneth Lohmann, lobster dapat mengetahui arah dengan mengikuti arah medan magnet kutub utara. Dalam penelitiannya dengan pemberian magnet tambahan, lobster berduri selalu menyesuaikan diri mengikuti medan magnet kutub utara.

6. Migrasi Bakteri


Bakteri juga ada yang migrasinya dipengaruhi oleh medan magnet loh, salah satunya adalah bakteri Magnetotactic yang memiliki organel khusus yang dinamakan magnetosome dan bergerak menggunakan flagela.

Bakteri ini ditemukan oleh Richard P. Blakemore pada tahun 1975 melalui penelitiannya yang menemukan senyawa magnetite (Fe3O4) atau greigite (Fe3S4) pada organel selnya.

Sifat magnetik pada bakteri ini lebih kuat daripaada magnet sintektik yang dibuat oleh manusia. dan merespon sangat baik terhadap medan magnet bumi.

Kandungan magnet pada bakteri ini banyak dilakukan penelitian oreh para scientist untuk perkembangan bidang kesehatan.

Masih banyak penggunaan medan magnet bumi oleh hewan untuk kegiatan migrasinya, dan penelitian ini masih terus dilakukan untuk mengetahui pola penggunaan medan magnet oleh hewan lainnya.

Source:
Dieudonné, A., Pignol, D., & Prévéral, S. (2019). Magnetosomes: biogenic iron nanoparticles produced by environmental bacteria. Applied Microbiology And Biotechnology, 103(9), 3637-3649. doi: 10.1007/s00253-019-09728-9